MERUBAH PUISI MENJADI PROSA

DENGAN MENGGUNAKAN TEKNIK BATU TAMBUN

( Baca Tulis Tambah Susun)

Sebuah Praktik Teladan ( Best Practice)

 

Oleh : Irfan Arif, S.Pd

e-mail : irfandna@yahoo.co.id

 

 

Pembelajaran Bahasa Indonesia memunyai ruang lingkup dan tujuan yang menumbuhkan kemampuan mengungkapakan pikiran dan perasaan dengan menggunakan bahasa yang baik dan benar. Pada hakikatnya, pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di sekolah dasar diarahkan untuk mempertajam kepekaan perasaan siswa. Salah satu bentuk sastra yang dapat diapresiasi oleh siswa adalah prosa. Mata pelajaran Bahasa Indonesia terdiri atas bahasa dan sastra. Khusus pada sastra mencakup pelajaran prosa dan puisi. Dalam keterampilan menulis sastra pada siswa salah satu materi yang cukup penting adalah menulis prosa.

 

Prosa  merupakan sebuah karya sastra berupa tulisan bebas yang tidak terikat dengan berbagai aturan yang dalam penulisan nya seperti rima, diksi, irama, dan lain sebagainya. Makna tulisan yang terdapat di dalam prosa yakni bersifat denotatif dan tulisan yang yang terkandung di dalam nya memiliki makna yang sebenarnya. Walaupun terkadang terdapat kata kiasan di dalamnya,Maka dalam hal tersebut hanya dapat fungsikan sebagai ornamen atau hanya untuk memperindah tulisan yang ada di dalam prosa tersebut.

 

Pembelajaran menulis prosa di sekolah dasar adalah menulis prosa dari suatu karya sastra puisi atau merubah puisi menjadi bentuk prosa. Kegiatan pembelajaran menuis prosa yang selama ini penulis lakukan di SDN Ngaglik 01 Kota Batu di kelas 6 adalah dengan menggunakan media  contoh karya sastra prosa kepada peserta didik dan hasilnya selalu saja peserta didik masih belum dapat menulis prosa dengan baik sesuai dengan kriteria penilaian yang penulis tetapkan. Dari hasil analisis terhadap karya prosa yang telah dihasilkan oleh peserta didik selama proses pembelajaran ditemukan bahwa hampir semua peseta didik kesulitan dalam menuangkan ide, kesulitan dalam memulai untuk memilih kata yang akan dituliskan, belum mampu menerapkan tahapan dalam menulis suatu karya prosa dari puisi dan juga didapatkan data bahwa peserta didik minim akan kata-kata atau diksi.

 

Berdasarkan hasil kajian dan analisis terhadap permasalahan dan kenyataan yang ada maka penulis mencoba untuk mecari alternatif pemecahan dengan mencoba media, metode, maupun teknik yang digunakan dalam pembelajaran menulis prosa di kelas. Pada pembelajaran kali ini media yang digunakan tetap contoh prosa tetapi tidak hanya ditayangkan di proyektor, tetapi setiap siswa diberikan contoh masing-masing berupa lembar kertas foto copian. Untuk strategi yang digunakan adalah dengan menerapkan pembelajaran kooperatif model Two Stay Two Stray yang dipadukan dengan tahapan dalam menulis suatu prosa dari puisi sehingga lahirlah teknik Batu Tambun ( Baca Tulis Tambah Susun) yang penulis terapkan dalam pempelajaran menulis prosa kali ini. Teknik ini digunakan dalam upaya untuk mengatasi berbagai masalah yang muncul pada pembelajaran sebelumnya yang mengakibatkan tidak tercapainya tujuan pembelajaran.

 

Dari penerapan teknik tersebut diperoleh hasil bahwa hampir sebagian besar peserta didik beremangat dalam mengikuti kegiatan pembelajaran, semua pererta didik aktif terlibat dalam setiap tahap kegiatan pembelajaran, dan sebagian besar siswa dapat membuat karya prosa dengan mudah dan dengan hasil yang sesuai dengan kriteria yang penulis tetapkan. Berikut adalah tahapan kegiatan pembelajaran yang penulis lakukan dalam membelajarkan materi tersebut :

1.Guru menyajikan contoh karya sastra prosa yan dihasilkan dari memparfasa suatu puisi

2. Peserta didik difasilitasi untuk bertanya jawab tentang karya prosa dan tahapan dalam menyusun suatu karya prosa dari puisi

3. Peserta didik berkelompok 4 orang dalam tiap kelompok

4. Guru membagikan lembar puisi, ATK, dan lembar kegiatan peserta didik ( LKPD ) yang berupa kertas manila dengan pola yang sudah ditentukan oleh guru

     

5. Tiap kelompok melakukan kegiatan tahap Baca, yaitu membaca puisi yang akan diparafrase dengan membaca cermat dan teliti.

  

6. Tiap kelompok melakukan kegiatan tahap Tulis, yaitu menuliskan tiap baris puisi pada kolom A yang telah ditetapkan pada LKPD.

7. Tiap kelompok melakukan kegiatan tahap Tambah 1, dengan bantuan Kamus Besar Bahasa Indonesia dan diskusi kelompok menentukan tambahan kata, mencari arti kata sulit dan menuangkannya pada kolom B pada LKPD

  

8. Setiap kelompok menempelkan hasil kerja LKPDnya pada dinding disekitar bangku tiap kelompok.

9. Setiap kelompok dibagi atas 2 orang bertugas menjaga karyanya dan 2 orang saling mengunjungi karya kelompok lain untuk melakukan kegiatan tahap tambah 2, yaitu dengan memberikan bantuan/ saran pilihan kata yang perlu ditambahkan pada karya kelompok lain dengan menuliskannya pada kertas post it dan menempelkannya pada kolom C yang sudah disediakan pada LKPD.

    

10. Setelah semua saling mengunjungi maka tiap kelompok kembali berkumpul pada tiap kelompok masing-masing untuk melanjutkan ke tahap Susun 1, yaitu dengan mendiskusikan hasil kerja penambahan kata dari kelompoknya pada kolom B dan juga tambahan dari kelompok lain pada kolom C untuk diputusan kalimat apa yang akan dipakai dan dituliskan pada kolom susun.

    

11. Setelah setiap baris puisi telah diparafrasakan, maka dilanjutkan pada tahap susun 2, yaitu dengan menyalin semua baris kalimat hasil parafrasa pada kolom susun untuk dituliskan menjadi pargraf parafrasa yang dituliskan pada kolom Hasil Parafrasa.

   

12.Kegiatan inti selesai dan karya prosa dari hasil memparafrasakan puisi telah jadi.

Dari hasil yang ada maka penulis merasa bahwa praktik pembelajaran kali ini merupakan praktik pembelajaran terbaik yang pernah penulis lakukan dalam membelajarkan materi merubah puisi menjadi karya sastra prosa. Keberhasilan tersebut terjadi baik dalam proses pembelajaran yang membuat peserta didik semakin aktif dan juga dari sebagian besar peserta didik yang telah mampu membuat karya prosa dengan baik sesuai dengan kaidah dalam penulisan suatu karya sastra prosa.